hobies

Kamis, 09 Desember 2010

review CD

Siksakubur

Oleh : Bimo Samyayogi
Masih memukau dengan brutal death metal teknik tinggi di album kelima

Masuk album kelima, musik Siksakubur terdengar lebih eksploratif dan distinctive. Bagaimana tidak, kali ini Siksakubur menampilkan sebuah album soundtrack untuk novel yang diangkat ke film layar lebar bertajuk 300 (tentang pasukan Sparta melawan kolonialisme bangsa Persia) dengan kemasan brutal death metal yang bernuansa epik. Suatu langkah yang inovatif di ranah death metal lokal. Dengan susun-an judul lagu yang berdasarkan alur cerita sejarah tersebut, lagu demi lagu Siksakubur menunjukkan progresi musik yang signifikan jika dibanding empat album sebelumnya. Meski tanpa kehilangan benang merah style, aransemen padat, rapat dan teknikal, album ini terasa lebih melodius dan atmosferik-suram. Pengaruh band-band Eropa seperti Behemoth, Vader, Decapitated dan Amerika seperti Cannibal Corpse tidak bisa dipungkiri. Mungkin pergantian formasi di tubuh Siksakubur merupakan faktor terbesarnya. Terutama kehadiran penyiksa drum baru, Prama, dengan style permainan yang berbeda dengan pemain drum terdahulu, Andyan Gorust. Namun sayangnya karakter sound snare drum masih terlalu kasar sehingga agak mengganggu kenikmatan lagu-lagunya, terutama pada saat hyper blasting. Namun penggarapan serius konsep materi dan rekaman album ini tetap sangat bisa dirasakan kehebatannya.                               

review CD

Black Label Society

Oleh : Ricky Siahaan






Akhirnya keluar dari mediocrity



Akhirnya setelah beberapa album Black Label Society ke belakang yang tak lebih dari upaya mediocre seorang gitaris shredder berestetika biker, Order of the Black menaikkan kelas bermusik Zakk Wylde ke tempat yang lebih tinggi. Tiga lagu pembuka album ini, “Crazy Horse”, “Overlord” dan “ Parade of the Dead” bisa dikategorikan sebagai lagu-lagu terbaik yang pernah ditulisnya. Bertaburan dengan riff blues metal yang berat, menjerit-jerit dan yang pasti cepat melekat di kepala. Semua lagu di album ini masih mengeksploitasi solo gitar Zakk Wylde yang fantastis. Beberapa lagu ballad entah me-ngapa selalu menjadi kelemahan Black Label Society. Denting piano mengiringi lagu sedih tak pernah cocok menggambarkan seorang anggota Hell’s Angels beringas namun sensitif dan gemar meratap. Kendati secara musikal balada macam “Darkest Days”, “Time Waits For Noone” dan juga “Shallow Grave” cukup menunjukkan progresi dari balada album-albumnya yang lalu. Lepas dari kamp Ozzy Osbourne ternyata membawa hal baik bagi Zakk Wylde. Melalui Order of the Black ia kini semakin sah menjadi ikon bagi para penggemar musik blues metal yang senang merayakan testosteron. 

review CD

Black Label Society

Oleh : Ricky Siahaan






Akhirnya keluar dari mediocrity



Akhirnya setelah beberapa album Black Label Society ke belakang yang tak lebih dari upaya mediocre seorang gitaris shredder berestetika biker, Order of the Black menaikkan kelas bermusik Zakk Wylde ke tempat yang lebih tinggi. Tiga lagu pembuka album ini, “Crazy Horse”, “Overlord” dan “ Parade of the Dead” bisa dikategorikan sebagai lagu-lagu terbaik yang pernah ditulisnya. Bertaburan dengan riff blues metal yang berat, menjerit-jerit dan yang pasti cepat melekat di kepala. Semua lagu di album ini masih mengeksploitasi solo gitar Zakk Wylde yang fantastis. Beberapa lagu ballad entah me-ngapa selalu menjadi kelemahan Black Label Society. Denting piano mengiringi lagu sedih tak pernah cocok menggambarkan seorang anggota Hell’s Angels beringas namun sensitif dan gemar meratap. Kendati secara musikal balada macam “Darkest Days”, “Time Waits For Noone” dan juga “Shallow Grave” cukup menunjukkan progresi dari balada album-albumnya yang lalu. Lepas dari kamp Ozzy Osbourne ternyata membawa hal baik bagi Zakk Wylde. Melalui Order of the Black ia kini semakin sah menjadi ikon bagi para penggemar musik blues metal yang senang merayakan testosteron. 

REVIEW CD.

 
Alice
 

Oleh : Ricky Siahaan






Kekacauan yang sempurna datang dari Bandung



Apa yang membuat EP Konsorsiumhumaniora, debut album mini dari band hardcore/punk asal Bandung ini menarik adalah pendekatan musikal mereka yang anomali bila dibanding band-band pada umum-nya di scene musik cadas nusantara. Cu-kup terpengaruh kental de-ngan band-band bernuansa ‘chaotic’ se-perti Converge, Botch, atau Cave in era awal, membuat nada-nada pada tembang “Kontradiksi Tirani” terde-ngar miring, kreatif, absurd dan di saat yang sama di-ngin, brutal, dan juga apokaliptis. Dengan tempo dasar yang berubah-ubah sekehendak hati, distorsi gitar disetel kasar dan menggerinda gendang te-linga, tembang “Iron Nerves/Maladjusted Creation” terdengar ‘harmonis’ versi orang schizophrenik yang tengah meng-amuk. Yang paling menarik perhatian adalah lagu terakhir, “Myasthenia Gravis”, sebuah nomor hardcore punk yang berat, lambat de-ngan genjrengan repetitif dari sebuah kord yang beraroma bizzare. EP ini adalah sebuah petualangan menyegarkan, penuh kekacauan namun berdaya pikat. Sayang format album ini hanya sebuah album mini, namun untungnya lebih dari cukup berpotensi untuk menobatkan Alice menjadi buzz band berikutnya di lingkungan musik ekstrim di Indonesia.